You may have heard stories recently about the benefits of soy wax, or about how paraffin wax is unhealthy or not good for you.
Paraffin wax is a heavy hydrocarbon that comes from crude oil. Paraffin waxes are produced by refining or separating the waxes out of crude mineral oils. Obtained from the ground, crude oil is a compositionally varied product, consisting of a mixture of hydrocarbons. Soy wax, on the other hand is a vegetable wax made from the oil of soybeans. After harvesting, the beans are cleaned, cracked, de-hulled, and rolled into flakes.
There are a lot of myths surrounding soy candles. Most of these are designed to sell soy candles better, and have very little truth in them. A great example is the great "no soot" myth. Sites that sell soy candles love to say that there is absolutely no soot produced with a soy candle. However, there is no truth and all hype to that claim. Absolutely, positively, and most importantly, scientifically, all organic compounds when burned will emit some carbon (soot) due to incomplete combustion. Sooting is primarily a factor of wick length and disturbance of the flame's steady teardrop shape. There is no such thing as a soot-free candle. Further, while soy wax is all-natural and will not produce the thick black soot that you see on some paraffin containers, it does produce soot. An important fact to remember is that not all soot is black. Soot can be a "white soot" that cannot be seen with the naked eye. Soy wax will produce little black soot - unless the candle is improperly wicked, made, or burnt, but it may produce white soot.
But before you get scared of soot, let me tell you, that soot is in fact not harmful to you. Candle soot is composed primarily of elemental carbon particles, and is similar to the soot given off by kitchen toasters and cooking oils. These everyday household sources of soot are not considered a health concern, and are chemically different from the soot formed by the burning of diesel fuel, coal, gasoline, etc. So the myth of "soot free soy candles" is not only inaccurate, but simply an effort by some companies to scare the general public into buying their candles.
However, soy wax is naturally a "soft" wax. While container candles, tealights, and small tarts may be made entirely of soy, it is extremely difficult to make good pillar candles and votives out of 100% pure soy wax. Additives are used to make them better, but in most cases, paraffin wax is still a much better solution for those types of candles.
In the end, both paraffin wax and soy wax are both good choices for candle wax. Neither is more "environmentally friendly" than the other, as there has never been scientific evidence that paraffin wax is harmful to your health in any way at all. It is a personal choice of which type you prefer to use, and both types hold scent and dye just as well. The only benefit that there is in all reality, is that container candles using soy wax do burn longer. And it does benefit the farmers of the Mid-western United States. However, most other claims regarding soy wax are false and/or misleading.
For complete article, go to: http://www.articlesbase.com/environment-articles/soy-vs-paraffin-candles--the-great-debate-39919.html
|
Lilin sering digunakan dalam ritual spiritualisme. Sinarnya yang termaram ditengah kegelapan menentramkan hati. Goresan, lukisan, dan berbagai kreasi pada sebatang lilin menyalurkan segala emosi, seperti yang ada di Linova Gracia. Temaram cahaya lilin di kuil atau digereja menyebarkan kesan tenang ke lingkungan sekitarnya. Kesan romantis juga didapat saat makan malam bersama kekasih dalam temaram cahaya lilin. Linda Gunawan Zulkarnaen melihat lebih jauh dari kesan-kesan yang umum dialami semua orang. “Emosi bisa kita curahkan ke sebatang lilin. Ternyata lilin bisa dijadikan terapi stres yang sangat baik,” ujar ibu rumah tangga yang mengisi waktu luangnya dengan memproduksi serta menjual lilin istimewa di toko Linova Gracia ini.
Dekorasi pada sebatang lilin itu sifatnya individual dan istimewa. Bergantung pada emosi yang sedang dialami oleh pembuatnya. Linda menunjuk sebuah lilin dengan dekorasi bulat-bulat atau polka dot. “Cara membuatnya sederhana saja. Pukul batang lilin ini dengan alat seperti ini. Hasilnya tak akan sama antara saya dan Anda karena emosi kita saat ini pasti beda,” tuturnya. Memar-memar pada permukaan lilin karena dipukul palu itu jadi tampak indah, “Supaya efek yang dihasilkan indah, pilihlah lilin berwarna merah tua. Kemarahan dan emosi negatif Anda tersalurkan dan Anda punya lilin hias yang indah,” ungkap pemilih toko lilin yang terletak di Taman Meruya, Jakarta Barat ini.
Selain memukul lilin dengan palu, Linda punya sejuta cara lain melampiaskan emosi pada sebatang lilin. Bolpoin, cutter, obeng, solder, pahat dimanfaatkannya untuk membuat guratan-guratan pada permukaan lilin. “Anda tak perlu punya bakat seni untuk membuat guratan menghias lilin. Cukup dicukil-cukil atau digores sepanjang lilin,” katanya memberi contoh.
Lebih Mudah
Memahat diatas medium lilin itu diakuinya lebih muda daripada di kayu. Linda memperlihatkan batang lilin berdiameter sekitar 20 cm berhias ukiran kisah sengsara Isa Almasih. “Lilin ini memang diukir oleh seorang pengrajin kayu,” katanya. Mereka yang berbakat bisa melukis sebatang lilin putih memakai cat akrilik. Yang tak punya berbakat melukis tetap bisa menghias lilin dengan cara melapisinya dengan serbet hias yang terbuat dari kertas tisu. Lilin dengan lukisan tema Natal yang indah bisa dihasilkan setelah melapisinya dengan serbet yang terbuat dari kertas tisu bertema Natal. Serbet itu dilem dengan rapi dan teliti pada batang lilin.
Bermain-main dengan lilin ini, kata Linda, tak mengenal batas kreativitas. Di dasar cetakan lilin ia menaruh es batu. Diatasnya dituang cairan lilin panas. Ketika lilin mulai mengering, es batu itu menccair sehingga bagian yang terisi es itu jadi tampak berongga-rongga. Memakai lilin warna kuning, lilin berongga itu jadi mirip keju yang menggoda selera.
Lampiaskan Emosi
Linda rajin menularkan terapi pelampiasan emosi sederhana ini ke teman-teman di sekitarnya. Salah seorang temannya yang sudah pensiun sangat menikmati waktu luangnya dengan menghias lilin. “Bahkan, teman saya yang menderita stroke dan sulit berjalan mengakui lebih bahagia dapat mengisi waktu dengan menghias lilin,” kata wanita yang mendapat ide bermain-main dengan lilin sejak ikut pendampingan rohani Samadhi Emaus yang dipimpin oleh Sr. Seraphine OSF itu.
Untuk seorang pemula, Linova Gracia menyediakan satu set alat dan bahan pembuat lilin. “Jangan takut-takut mencoba beragam kreasi dengan lilin. Anda cuma perlu peralatan memasak di dapur. Sama seperti ketika Anda sedang berkreasi mencetak puding. Cobalah membuat lilin dengan berbagai kreasi dan warna.” paparnya. Jika bosan, lelehkan kembali dan cetak lilin sesuai keinginan dan emosi Anda saat itu. |